Menggali Potensi “Apotek Alam”: Eksplorasi Tanaman Obat Berbasis Etnofarmasi di Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan
Penulis: Suhardiansyah Suhardiansyah
Hutan Lindung Sungai Wain di Balikpapan merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Kalimantan Timur yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Kawasan ini tidak hanya berperan sebagai penyangga ekosistem, tetapi juga menyimpan potensi besar dalam bidang kesehatan melalui berbagai jenis tumbuhan berkhasiat. Pada tahun 2024, dilakukan kegiatan eksplorasi tanaman berbasis etnofarmasi di Hutan Lindung Sungai Wain sebagai bentuk pembelajaran lapangan sekaligus upaya mengenal pemanfaatan tanaman obat yang berkembang di masyarakat setempat.

Gambar 1. Peta ekowisata dan ketentuan memasuki kawasan Hutan Lindung Sungai Wai
Eksplorasi ini menggunakan pendekatan etnofarmasi, yaitu pendekatan yang mempelajari pemanfaatan tumbuhan sebagai obat berdasarkan pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat. Pendekatan ini penting karena pengetahuan tradisional sering kali tidak tertulis, namun hidup dalam kebiasaan sehari-hari dan diwariskan turun-temurun. Melalui proses eksplorasi, informasi mengenai pemanfaatan tanaman obat dapat didokumentasikan secara sistematis dan berpotensi menjadi dasar bagi kajian ilmiah yang tetap menghargai kearifan lokal.

Gambar 2. Penandaan lokasi/objek observasi di kawasan hutan
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi dan pengarahan sebelum turun ke lapangan. Peserta menyiapkan catatan lapangan serta panduan pertanyaan untuk mendukung proses pengumpulan informasi. Selain itu, peserta juga diingatkan untuk menjaga etika selama kegiatan berlangsung, seperti bersikap sopan saat berinteraksi dengan masyarakat, menjaga keselamatan, serta tidak merusak lingkungan. Hal ini menjadi bagian penting karena eksplorasi dilakukan di kawasan hutan lindung yang harus dijaga kelestariannya.

Gambar 3. Suasana jalur eksplorasi di Hutan Lindung Sungai Wain
kegiatan dilaksanakan melalui observasi langsung di lapangan. Peserta melakukan pengamatan terhadap tanaman yang ditemukan di sekitar kawasan hutan, mengenali ciri umum tumbuhan, serta mencatat habitat dan bagian tanaman yang berpotensi dimanfaatkan, seperti daun, batang, akar, kulit kayu, dan buah. Seluruh proses dilakukan dengan prinsip konservasi, sehingga eksplorasi tidak dilakukan dengan mengambil tanaman secara sembarangan. Hal ini penting karena kelestarian hutan menjadi faktor utama agar kekayaan flora tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Selain observasi, kegiatan juga melibatkan masyarakat setempat sebagai sumber pengetahuan utama dalam pendekatan etnofarmasi. Penggalian informasi dilakukan melalui wawancara dan diskusi untuk memahami tanaman apa saja yang biasa digunakan sebagai obat, manfaat yang dipercaya, serta cara pengolahan dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi dilakukan secara sopan dan terbuka agar narasumber merasa nyaman saat menyampaikan informasi. Dokumentasi kegiatan memperlihatkan proses tanya jawab langsung di lapangan disertai pencatatan data, menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya bersifat pengamatan, tetapi juga pengumpulan informasi berbasis pengalaman masyarakat.

Gambar 5. Wawancara dan pencatatan informasi bersama masyarakat setempat
Kegiatan eksplorasi ini memberikan gambaran nyata mengenai pemanfaatan tanaman obat yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Melalui observasi lapangan serta interaksi langsung bersama warga setempat, diperoleh informasi bahwa terdapat lebih dari 100 temuan tanaman obat yang dikenal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Temuan tersebut menunjukkan besarnya potensi sumber daya alam di kawasan Hutan Lindung Sungai Wain, sekaligus memperlihatkan kuatnya peran kearifan lokal dalam menjaga pengetahuan pengobatan tradisional. Beberapa tanaman dimanfaatkan untuk membantu keluhan ringan seperti batuk, demam, pegal, hingga perawatan kesehatan tertentu yang dilakukan secara tradisional. Cara pengolahannya pun beragam, mulai dari direbus untuk diminum, ditumbuk untuk dioleskan, hingga diolah menjadi ramuan herbal sederhana sesuai kebiasaan Masyarakat.
Kegiatan ini menjadi pengalaman lapangan yang bermakna karena peserta dapat memahami bahwa pemanfaatan bahan alam tidak hanya berkaitan dengan jenis tanamannya, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan, budaya, serta cara masyarakat menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Selain itu, eksplorasi ini membuka peluang untuk pengembangan kajian lanjutan, seperti pendataan tanaman secara lebih rinci, penelitian kandungan senyawa aktif, serta pengujian keamanan dan efektivitas secara ilmiah. Dengan demikian, hasil eksplorasi dapat menjadi awal dalam mengembangkan inovasi kesehatan berbasis bahan alam yang lebih terarah.