Potensi Tanaman Endemik Banitan (Monocarpia kalimantanensis) dari Hutan Lindung Samboja sebagai Kandidat Obat Antiinfeksi

 Diposting pada: Rabu, 28 Januari 2026, 11:21 WITA
 Penulis: Suhardiansyah Suhardiansyah
Sejalan dengan TPB nomor:
SDGs 1 SDGs 6 SDGs 13 SDGs 15
Potensi Tanaman Endemik Banitan (Monocarpia kalimantanensis) dari Hutan Lindung Samboja sebagai Kandidat Obat Antiinfeksi

Pada tahun 2025 telah dilaksanakan kegiatan observasi lapangan yang bertempat di Hutan Lindung Samboja, Kalimantan Timur. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Program Studi Farmasi serta dosen Farmasi sebagai pembimbing kegiatan penelitian. Observasi lapangan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan akademik dan penelitian ilmiah yang berfokus pada eksplorasi tanaman endemik sebagai sumber potensial pengembangan obat baru untuk penyakit infeksi.

Kegiatan ini bertujuan untuk mencari, mengidentifikasi, serta mendokumentasikan tanaman Banitan (Monocarpia kalimantanensis), yaitu tanaman endemik Kalimantan yang diketahui berdasarkan literatur dan pengetahuan lokal memiliki potensi kandungan senyawa bioaktif. Tanaman Banitan (Monocarpia kalimantanensis) dipilih sebagai objek penelitian karena diduga memiliki aktivitas biologis yang dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku obat baru, khususnya dalam pengobatan infeksi.

Gambar 1 Dokumentasi daun tanaman Banitan (Monocarpia kalimantanensis) sebagai bagian dari identifikasi morfologi.

Kegiatan observasi lapangan ini juga dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan akan pengembangan obat baru yang berasal dari bahan alam, khususnya dalam menghadapi permasalahan resistensi terhadap obat antimikroba. Pemanfaatan tanaman endemik sebagai sumber senyawa aktif diharapkan dapat menjadi alternatif yang berkelanjutan serta mendukung pengembangan riset berbasis keanekaragaman hayati lokal.

Pemilihan lokasi Hutan Lindung Samboja didasarkan pada status kawasan tersebut sebagai wilayah konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan ekosistem yang relatif masih terjaga. Kawasan ini menjadi lokasi yang strategis untuk kegiatan penelitian berbasis sumber daya alam, terutama dalam upaya eksplorasi tanaman obat endemik tanpa mengabaikan prinsip pelestarian lingkungan.

Gambar 2 Habitat alami tanaman Banitan (Monocarpia kalimantanensis) di kawasan Hutan Lindung Samboja.

Pelaksanaan kegiatan observasi lapangan dilakukan melalui metode pengamatan langsung di area hutan dengan pendampingan dosen Farmasi. Mahasiswa melakukan penelusuran lokasi secara sistematis untuk menemukan tanaman Banitan (Monocarpia kalimantanensis) berdasarkan ciri morfologi yang telah dipelajari sebelumnya. Setiap tanaman yang ditemukan diamati karakteristik fisiknya, meliputi bentuk daun, batang, pola pertumbuhan, serta kondisi habitat tumbuh. Data hasil pengamatan dicatat secara rinci dan didukung dengan dokumentasi visual sebagai bahan analisis lanjutan.

Gambar 3 Kegiatan observasi lapangan dan identifikasi awal tanaman Banitan oleh mahasiswa dengan pendampingan dosen Farmasi.

Selama kegiatan berlangsung, seluruh pihak yang terlibat menerapkan prinsip etika penelitian dan konservasi, antara lain dengan tidak merusak lingkungan sekitar serta tidak melakukan pengambilan sampel tanaman secara berlebihan. Dosen Farmasi berperan dalam memberikan arahan ilmiah, memastikan metode observasi sesuai dengan kaidah penelitian, serta membimbing mahasiswa dalam proses identifikasi tanaman secara tepat dan bertanggung jawab.

Hasil sementara dari kegiatan observasi menunjukkan bahwa tanaman Banitan (Monocarpia kalimantanensis) ditemukan di beberapa titik di kawasan Hutan Lindung Samboja. Temuan ini mengindikasikan bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai sumber tanaman obat endemik yang bernilai strategis. Data lapangan yang diperoleh selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk penelitian lanjutan, termasuk analisis fitokimia dan uji aktivitas antimikroba di laboratorium guna mengevaluasi potensi tanaman Banitan sebagai kandidat pengembangan obat baru untuk infeksi.

Gambar 4 Aktivitas penelusuran lokasi observasi lapangan oleh tim penelitian dalam rangka eksplorasi tanaman endemik.

Selain berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, kegiatan ini juga memberikan manfaat edukatif bagi mahasiswa Farmasi dalam mengaplikasikan teori yang diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam praktik lapangan. Kegiatan observasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya konservasi keanekaragaman hayati serta pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dalam pengembangan obat berbasis bahan alam.

Observasi lapangan terhadap tanaman Banitan (Monocarpia kalimantanensis) di Hutan Lindung Samboja memberikan gambaran awal mengenai keberadaan dan karakteristik tanaman ini di habitat alaminya. Data lapangan serta dokumentasi visual yang diperoleh menjadi dasar penting dalam tahap awal penelitian berbasis bahan alam, khususnya dalam kajian potensi tanaman sebagai sumber senyawa bioaktif.

Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan Hutan Lindung Samboja masih memiliki potensi sebagai sumber keanekaragaman hayati yang relevan untuk penelitian lanjutan di bidang farmasi. Oleh karena itu, diperlukan studi lebih mendalam, seperti analisis fitokimia dan pengujian aktivitas biologis, guna mengevaluasi potensi tanaman Banitan sebagai kandidat pengembangan obat antiinfeksi.

 

Tags:
rimbawan konservasi
Berita lainnya