Ketika Jadwal Padat Menjadi Guru Terbaik Mahasiswa

 Diposting pada: Senin, 26 Januari 2026, 08:40 WITA
 Penulis: Raisha Azzahro
Sejalan dengan TPB nomor:
SDGs 4 SDGs 5
Ketika Jadwal Padat Menjadi Guru Terbaik Mahasiswa

umkt.ac.id, Samarida - Di tengah dinamika kehidupan kampus, jadwal padat telah menjadi realitas yang nyaris tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Perkuliahan, tugas akademik, hingga organisasi, sering kali hadir bersamaan menuntut mahasiswa untuk terus bergerak dan beradaptasi. Fenomena ini merupakan ruang belajar nyata yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan ketangguhan mahasiswa.

Fenomena mahasiswa dengan jadwal padat dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pembelajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai aktivis organisasi, anggota komunitas, bahkan pekerja paruh waktu. Kepadatan ini menuntut kemampuan manajemen waktu, pengendalian emosi, serta kesiapan menghadapi situasi tidak terduga. Keterampilan tersebut tidak diajarkan secara eksplisit dalam kurikulum.

Salah satu gambaran nyata datang dari Lutvia Nur Hastini, mahasiswi S1 Farmasi semester 7 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Di semester akhir perkuliahannya, Lutvia tidak sepenuhnya mengurangi aktivitas, ia justru menambah kegiatan yang bersifat pengembangan diri. Selain kuliah, ia aktif mengikuti komunitas literasi, menghadiri pentas seni seperti teater dan tari, serta terlibat dalam berbagai organisasi, di antaranya IMM Cabang Samarinda, PW Nasyiatul Aisyiyah Kalimantan Timur, dan Forum Literasi Pemerhati Media (FLPM).

Bagi Lutvia, menjalani jadwal padat adalah hal yang melelahkan. Sebagai mahasiswi farmasi yang akrab dengan laporan praktikum dan tuntutan akademik yang tinggi, waktu senggang menjadi sesuatu yang langka. Kegiatan organisasi yang kerap bersifat dadakan pun sering kali tidak dapat dihindari. Meski demikian, kebiasaan mengatur waktu sejak SMA membuatnya tidak asing dengan ritme kehidupan yang padat. Ia bahkan merasa ada kekosongan ketika tidak melakukan aktivitas apa pun. Meskipun berkepribadian introvert dan tetap membutuhkan waktu untuk memulihkan energi, ia mengaku menemukan kenyamanan dalam menjalani jadwal yang padat.

Kesibukan yang dijalani Lutvia menghadirkan banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah kemampuan mengelola emosi dan bersikap profesional di tengah kelelahan. Ia menyadari bahwa kehilangan kendali emosi dapat berdampak besar. Selain itu, kesibukan mengajarkan kualitas diri sangat bergantung pada bagaimana seseorang mengelola waktu. Bahkan kelalaian kecil dapat berdampak besar terhadap masa depan.

Tantangan terbesar yang kerap ia hadapi adalah kesiapan diri. Tenggat waktu yang tiba-tiba dimajukan, rapat mendadak yang wajib dihadiri, hingga penunjukan peran penting di luar zona nyaman sering kali datang bersamaan. Dalam situasi seperti itu, mahasiswa dituntut untuk berpikir cepat dan mengambil keputusan secara tepat. Pengalaman ini menjadi latihan nyata dalam menghadapi tekanan, sekaligus membangun kepercayaan diri.

Untuk menjaga keseimbangan, Lutvia menerapkan prinsip skala prioritas. Perkuliahan selalu menjadi fokus utama di atas aktivitas lainnya. Setelah kewajiban akademik terpenuhi, barulah ia menyelesaikan kegiatan non-akademik. Ketika terjadi benturan jadwal, ia melakukan evaluasi terhadap urgensi dan peran yang harus dijalankan. Pendekatan ini membantunya tetap konsisten tanpa mengabaikan tanggung jawab utama sebagai mahasiswa.

Dampak positif dari jadwal padat tersebut terasa signifikan. Lutvia yang sebelumnya merasa kurang teratur kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan terorganisir. Ia belajar untuk mendukung dirinya sendiri, berani menjalani aktivitas secara mandiri, serta mengenal beragam karakter, budaya, dan peran sosial. Pengalaman tersebut membantunya menemukan sisi lain dari jati diri yang sebelumnya belum ia sadari.

Apa yang dialami Lutvia sejalan dengan temuan berbagai penelitian. Zimmerman (2002) dalam Journal of Educational Psychology menyebutkan bahwa mahasiswa dengan keterlibatan tinggi dalam berbagai aktivitas cenderung memiliki kemampuan self-regulation dan manajemen waktu yang lebih baik. Sementara itu, laporan American Psychological Association (2018) menunjukkan bahwa stres pada tingkat moderat dapat mendorong adaptasi dan meningkatkan kemampuan coping, terutama pada generasi muda.

Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan peningkatan jumlah mahasiswa yang menjalani aktivitas di luar akademik, termasuk bekerja sambil kuliah. Fenomena ini menegaskan bahwa kehidupan kampus bukan hanya ruang pembelajaran akademik, tetapi juga laboratorium kehidupan yang membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Meski demikian, jadwal padat tidak boleh dimaknai sebagai pengabaian terhadap kesehatan fisik dan mental. Pembelajaran terbaik justru lahir dari kemampuan mengenali batas diri, berani beristirahat, dan melakukan evaluasi. Dukungan lingkungan kampus, dosen, serta komunitas menjadi faktor penting agar mahasiswa dapat tumbuh secara seimbang.

Sebagai penutup, Lutvia turut menyampaikan pesan bagi mahasiswa lain yang merasa kewalahan. Menjadi mahasiswa adalah sebuah anugerah yang tidak semua orang miliki. Rasa lelah, keluhan, tekanan, hingga keinginan menyerah merupakan hal yang manusiawi. Namun, dengan menjalaninya secara ikhlas dan penuh kesadaran, setiap proses akan menjadi bekal berharga. Tidak semua hasil akan sesuai ekspektasi, tetapi dari sanalah mahasiswa belajar mengevaluasi diri dan kembali melangkah menuju versi terbaik.

Jadwal padat bukan sekadar beban, melainkan guru terbaik yang mengajarkan disiplin, ketahanan, dan makna perjuangan. Dari kesibukan itulah mahasiswa ditempa bukan hanya untuk lulus semata, tetapi untuk siap menghadapi kehidupan.

 

 

Penulis: Raisha Azzahro

Sumber gambar: Freepik

Tags:
Artikel & Opini
Berita lainnya