Quarter Life Crisis di Bangku Kuliah: Normal Nggak, Sih?
Penulis: Raisha Azzahro
umkt.ac.id, Samarinda - Duduk di bangku kuliah sering kali dibayangkan sebagai fase hidup yang penuh semangat dan mimpi besar. Namun, realitanya tidak selalu seindah itu. Banyak mahasiswa justru merasa bingung, cemas, ragu terhadap diri sendiri, bahkan mempertanyakan arah hidupnya. Jika perasaan-perasaan ini terasa akrab, bisa jadi kamu sedang mengalami quarter life crisis!
Quarter life crisis adalah fase krisis emosional yang umumnya dialami oleh individu di usia 18–25 tahun. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Alexandra Robbins dan Abby Wilner dalam buku Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties (2001). Menurut survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) , masalah kecemasan dan depresi paling banyak dialami oleh kelompok usia 18–29 tahun, yang mayoritas berada pada fase pendidikan tinggi.
Pada fase ini, seseorang mulai mempertanyakan identitas diri, tujuan hidup, pilihan pendidikan, karir, hingga makna kesuksesan. Di lingkungan kampus, quarter life crisis kerap muncul di sela-sela tugas dan berbagai kegiatan akademik bahkan non akademik.
Mahasiswa yang mengalami quarter life crisis biasanya menunjukkan tanda-tanda tertentu. Mulai dari perasaan tidak percaya diri terhadap kemampuan akademik, membandingkan diri secara berlebihan dengan teman sebaya, merasa tertinggal, hingga kehilangan motivasi belajar. Tidak sedikit pula yang merasa salah jurusan, takut menghadapi masa depan, atau cemas memikirkan kehidupan setelah lulus.
Krisis ini disebabkan oleh banyak hal. Dari sisi akademik, tuntutan IPK, target kelulusan, kompetisi prestasi, dan tekanan untuk selalu produktif dapat menjadi beban tersendiri. Riset dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa tekanan akademik berkontribusi signifikan terhadap gangguan kesehatan mental pada mahasiswa.
Secara sosial, paparan media sosial yang menciptakan standar kesuksesan tidak realistis membuat mahasiswa terus-menerus membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain. Faktor finansial juga berperan besar, mulai dari biaya kuliah, kebutuhan hidup, hingga kekhawatiran soal kemandirian ekonomi. Belum lagi ekspektasi keluarga yang kadang tidak diungkapkan secara langsung, tetapi terasa berat untuk dipikul, seperti tuntutan agar segera lulus dan mendapat pekerjaan yang layak.
Jika tidak dikelola dengan baik, quarter life crisis dapat berdampak pada kesehatan mental dan prestasi akademik. Mahasiswa bisa mengalami stres berkepanjangan, kecemasan, sulit berkonsentrasi, hingga burnout. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempengaruhi performa belajar, relasi sosial, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menghadapi quarter life crisis adalah self-reflection, yakni memberi ruang untuk jujur pada diri sendiri tentang apa yang dirasakan. Self-reflection dapat dilakukan dengan menulis jurnal, mengambil jeda dari hiruk pikuk media sosial, atau sekadar mengakui bahwa keadaan diri tidak baik-baik saja.
Selain itu, memiliki support system sangat penting. Berbagi cerita dengan teman, keluarga, atau dosen pembimbing akademik, dapat membantu melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih jernih.
Manajemen ekspektasi juga menjadi kunci. Tidak semua orang memiliki garis waktu yang sama. Maka dari itu, tidak apa-apa jika prosesmu berbeda dari orang lain. Kuliah bukan perlombaan siapa yang paling cepat sukses, melainkan perjalanan untuk mengenal diri, mengasah potensi, dan belajar dari kegagalan.
Quarter life crisis di bangku kuliah adalah hal yang normal dan banyak dialami. Fase tersebut adalah sinyal bahwa seseorang sedang bertransisi menuju dewasa. Tidak apa-apa merasa bingung selama kamu tidak berhenti melangkah. Bisa jadi, kamu sedang berada di tengah proses menjadi versi dirimu yang lebih matang!
Penulis: Raisha Azzahro
Sumber gambar: Freepik