Doomscrolling dan Pergeseran Cara Belajar Mahasiswa
Penulis: Raisha Azzahro
umkt.ac.id, Samarinda - Menggulir layar gawai (scroll) telah menjadi kebiasaan kecil dalam keseharian. Niat awalnya hanya sebentar, tetapi sering berakhir dengan menghabiskan puluhan konten tanpa sadar. Bahkan di tengah berlangsungnya pembelajaran di kelas, tidak sedikit yang diam-diam terus menggulir layar.
Kebiasaan ini kemudian dikenal dengan istilahi ‘doomscrolling’, yakni kebiasaan mengonsumsi konten secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas. Meski terasa normal karena banyak dilakukan, muncul antitesis berupa digital minimalism, yaitu pendekatan hidup yang menekankan pengurangan konsumsi digital dan memprioritaskan interaksi nyata.
Fenomena ini diperkuat oleh publikasi “We Are Social” bertajuk ‘Global Digital Reports 2026’. Indonesia berada di peringkat ke-16 dunia dengan rata-rata penggunaan media sosial mencapai 3 jam 7 menit per hari, melampaui rata-rata global sebesar 2 jam 39 menit.
Dua kecenderungan ini hidup berdampingan dalam keseharian mahasiswa. Di satu sisi, gawai menjadi sumber belajar, informasi, dan hiburan. Di sisi lain, muncul kelelahan mental yang meliputi sulit fokus, cepat jenuh, hingga kecemasan tanpa sebab yang jelas.
Dampaknya pun mulai terasa pada cara belajar. Contohnya, membaca jurnal menjadi terasa berat, sementara menonton video singkat terasa lebih ringan dan mudah dicerna. Banyak mahasiswa terbiasa mencari ringkasan atau kesimpulan instan, tanpa melalui proses memahami dan mengkritisi informasi.
Di titik ini, terjadi pergeseran makna belajar. Pendalaman materi tidak lagi dianggap penting karena teknologi menawarkan kecepatan dan efisiensi waktu. Pola ini menciptakan ilusi produktivitas, di mana kita seolah tahu banyak hal, padahal tidak benar-benar memahaminya secara mendalam.
Kampus berada dalam posisi yang dilematis. Sistem pendidikan menuntut fokus jangka panjang, kemampuan membaca mendalam, dan berpikir kritis. Sementara itu, mahasiswa hidup dalam budaya yang serba cepat dan instan.
Hal ini tidak cukup diatasi dengan menghapus aplikasi atau membatasi waktu layar (screen time), tetapi juga dengan membangun kembali cara belajar yang lebih sadar, seperti membaca, mencatat, mengkritisi, dan memberi ruang untuk fokus tanpa distraksi.
Upaya ini bukan mengurangi penggunaan teknologi, melainkan mengembalikan kendali atas kesadaran. Sebab, dalam proses belajar, kedalaman berpikir tidak bisa digantikan oleh kecepatan konsumsi informasi.
Pilihan antara digital minimalism dan doomscrolling adalah tentang arah cara hidup. Teknologi memang tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak netral. Cara kita menggunakannya perlahan membentuk cara kita berpikir, belajar, dan memahami dunia.
Penulis: Raisha Azzahro
Sumber gambar: Freepik