Pendidikan sebagai Jalan Emansipasi, Menghidupkan Semangat Kartini di Era Digital

 Diposting pada: Selasa, 21 April 2026, 08:06 WITA
 Penulis: Raisha Azzahro
Sejalan dengan TPB nomor:
SDGs 4 SDGs 5
Pendidikan sebagai Jalan Emansipasi, Menghidupkan Semangat Kartini di Era Digital

umkt.ac.id, Samarinda - Setiap 21 April, nama R.A. Kartini dikenang sebagai simbol perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Namun hari ini, gagasan Kartini melampaui isu kesetaraan gender dan emansipasi wanita. Gagasan Kartini dapat dirasakan bagi  seluruh generasi muda yang tengah mencari ruang, suara, dan arah masa depannya.

Kartini memandang pendidikan sebagai sebuah jalan untuk keluar dari keterbatasan, ketertinggalan, dan ketidakadilan sosial. Pada zaman yang serba digital ini, pendidikan tetap menjadi jalan paling strategis untuk berdaya.

Ia pernah menulis, “Habis gelap terbitlah terang.” Jika dahulu “gelap” berarti terbatasnya akses pendidikan bagi perempuan, maka hari ini berbentuk distraksi digital, ketimpangan kualitas pendidikan, tekanan sosial, hingga krisis arah hidup.

Di era digital saat ini, akses belajar semakin terbuka. Internet memungkinkan siapa saja belajar kapan saja melalui berbagai platform. Namun, arus informasi juga membawa dampak seperti doomscrolling, penurunan fokus, dan lemahnya literasi. Alih-alih mendekatkan pada esensi belajar, teknologi justru menjauhkan.

Di saat yang sama, ketimpangan akses dan kualitas pendidikan masih menjadi persoalan nyata. Perbedaan kualitas fasilitas, akses teknologi, hingga sumber daya pengajar masih menjadi tantangan nyata. 

Akibatnya, pendidikan berisiko tereduksi menjadi formalitas. Tekanan akademik yang tinggi, kurikulum yang belum sepenuhnya adaptif, serta minimnya ruang eksplorasi, membuat banyak mahasiswa hanya mengejar nilai, bukan memaknai ilmu.

Jika dahulu Kartini memperjuangkan hak untuk belajar, maka tantangan hari ini adalah memastikan pendidikan benar-benar membebaskan, bukan menciptakan belenggu baru seperti kecanduan digital, standar kesuksesan yang sempit, atau sistem belajar yang mengekang.

Peran generasi muda di sini sangat krusial. Penggunaan teknologi yang lebih bijak, membangun kebiasaan belajar yang reflektif, serta keberanian untuk bertanya adalah langkah awal menghidupkan kembali pendidikan sebagai alat emansipasi.

Di sisi lain, institusi pendidikan perlu berbenah dengan menghadirkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual, relevan, mendorong partisipasi aktif, serta memberi ruang untuk bereksperimen. Institusi pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi harus membentuk individu yang mampu berpikir kritis, berintegritas, dan adaptif terhadap perubahan. 

Kampus sebagai ruang intelektual, harus menjadi ruang dialektika dan tempat lahirnya gagasan serta solusi. Mahasiswa perlu didorong menjadi agen perubahan yang mampu membaca dan menjawab persoalan nyata di masyarakat. Seperti yang telah ditunjukkan Kartini lebih dari satu abad lalu, perubahan besar selalu dimulai dari pendidikan. 

Hari ini, tantangan generasi muda bukan lagi sekadar memperoleh akses pendidikan, tetapi memastikan bahwa proses belajar benar-benar memerdekakan. Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan zaman, pendidikan harus menjadi ruang untuk berpikir jernih, bersikap kritis, dan bertumbuh.

Sepatutnya, memperingati Hari Kartini tidak hanya mengenang sosoknya, tetapi melanjutkan perjuangannya yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Semangat Kartini hidup dalam keberanian untuk belajar dengan sadar, berpikir merdeka, dan generasi berdaya yang menciptakan perubahan. 

 

 

Penulis: Raisha Azzahro

Sumber gambar: Merdika.id

Tags:
Artikel & Opini
Berita lainnya