Memaknai Iduladha, Menumbuhkan Kepedulian dan Semangat Berbagi

 Diposting pada: Rabu, 27 Mei 2026, 10:06 WITA
 Penulis: Raisha Azzahro
Sejalan dengan TPB nomor:
SDGs 4 SDGs 16
Memaknai Iduladha, Menumbuhkan Kepedulian dan Semangat Berbagi

umkt.ac.id, Samarinda — Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan tahunan umat Islam yang identik dengan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Iduladha menjadi ruang refleksi tentang keimanan, pengorbanan, kepedulian sosial, serta semangat berbagi kepada sesama. Nilai-nilai tersebut penting untuk terus dihidupkan, khususnya di lingkungan perguruan tinggi dalam membentuk generasi yang unggul secara akademik sekaligus memiliki kepekaan sosial dan spiritualitas yang kuat.

Kepala Bagian Pembinaan AIK dan Pengembangan Pemikiran Islam Lembaga AIK MKDU Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Lukman Hakim, menjelaskan bahwa Iduladha mengajarkan manusia untuk mampu mengendalikan ego dan menempatkan kecintaan kepada Allah Swt. di atas kepentingan duniawi.

“Iduladha bukan sekadar ritual tahunan. Hakikat kurban bukan hanya tentang darah dan daging hewan yang disembelih, tetapi bagaimana manusia mampu menyembelih ego, hawa nafsu, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia,” ujarnya.

Ia menilai kehidupan modern membuat manusia kerap diperbudak ambisi, gengsi, hingga kepentingan pribadi. Karena itu, Iduladha menjadi momentum penting untuk melakukan introspeksi diri.

“Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apa sebenarnya ‘Ismail’ dalam hidup kita hari ini. Bisa jadi itu jabatan, harta, popularitas, bahkan ego intelektual kita sendiri,” tambahnya.

Menurut Lukman, kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. merupakan teladan tentang keimanan, kesabaran, dan ketaatan dalam menghadapi ujian hidup. Keteguhan iman Nabi Ismail a.s., lanjutnya, menjadi pelajaran penting bagi orang tua maupun pendidik dalam menanamkan nilai ketauhidan kepada generasi muda.

“Pesan pertama dari kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. adalah tentang keimanan. Bagaimana seorang anak diajarkan untuk selalu menghadirkan Allah Swt. dalam setiap aktivitas hidupnya,” jelasnya.

Selain itu, kisah tersebut juga mengandung pesan tentang pengorbanan dan keikhlasan. Nabi Ibrahim a.s. diuji dengan berbagai cobaan, termasuk perintah untuk menyembelih putranya sendiri. Namun, semua dijalani dengan penuh ketaatan kepada Allah Swt.

“Tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Iduladha mengajarkan bahwa keikhlasan dan kesediaan berbagi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia,” katanya.

Ia juga menilai nilai-nilai Iduladha sangat relevan bagi mahasiswa di tengah tantangan zaman saat ini. Menurutnya, banyak orang cerdas secara akademik, tetapi kehilangan arah dan makna hidup.

“Tantangan terbesar manusia hari ini bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan makna hidup. Banyak yang pintar, tetapi hatinya kosong. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keteguhan prinsip, ketauhidan, dan kesadaran bahwa hidup harus selalu melibatkan Allah Swt.,” ungkapnya.

Dalam konteks pendidikan, Lukman menegaskan bahwa kampus memiliki peran penting dalam menanamkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial kepada mahasiswa. Kampus, menurutnya, tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan jiwa kemanusiaan.

“Kampus harus mampu membentuk manusia yang berkarakter. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang tulus dan benar-benar peduli terhadap sesama,” tuturnya.

Sebagai implementasi nilai tersebut, Lembaga AIK MKDU UMKT menghadirkan program sedekah kurban yang melibatkan mahasiswa secara langsung. Program itu menjadi salah satu bentuk pembelajaran untuk menumbuhkan kepedulian sosial mahasiswa terhadap masyarakat.

“Mahasiswa ikut terlibat dalam proses kurban hingga penyaluran kepada masyarakat. Ini adalah bentuk komitmen agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa sosial,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Iduladha juga menjadi momentum mempererat hubungan antar sesama. Islam mengajarkan kepedulian sosial yang tinggi dan menolak sikap individualis.

“Seorang muslim harus memiliki kepekaan terhadap sesama. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Lukman berharap Iduladha 1447 Hijriah dapat menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika UMKT untuk memperkuat persaudaraan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi.

“Mari jadikan Iduladha sebagai perantara lahirnya generasi akademik yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga unggul dalam kepedulian sosial, kejujuran, dan spiritualitas,” pungkasnya.

 

 

Penulis: Raisha Azzahro

Tags:
Artikel & Opini
Berita lainnya