Grammar Mistakes Saat Belajar Bahasa Inggris: Bangkit dari Kesalahan seperti Lamine Yamal
Penulis: Raisha Azzahro
umkt.ac.id, Samarinda — Pernah keliru menggunakan you're dan your, atau menulis ‘God blast you’ alih-alih ‘God bless you’? Kesalahan-kesalahan tersebut merupakan grammar mistakes yang umum dialami oleh siapa pun yang sedang belajar bahasa Inggris.
Sama seperti dalam sepak bola, blunder ketika belajar bahasa Inggris merupakan hal yang lumrah. Apalagi saat Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Publik disuguhi berbagai kesalahan pemain yang menjadi sorotan. Mulai dari gol Mostafa Zico yang dianulir VAR (Video Assistant Referee/Asisten Wasit Video) akibat rekannya lebih dulu menginjak kaki Lisandro Martínez, hingga Alexander Sørloth yang gagal memanfaatkan peluang emas di depan gawang Inggris dan memicu kekecewaan Erling Haaland.
Dalam sepak bola, satu blunder kecil bisa mengubah jalannya pertandingan. Hal yang sama juga terjadi ketika belajar bahasa Inggris. Kesalahan memang tidak bisa dihindari, tetapi justru menjadi bagian penting dari proses belajar.
Layaknya kesalahan para pemain di lapangan hijau, grammar mistakes yang dilakukan para pembelajar bahasa Inggris juga sering menjadi bahan perbincangan. Ada yang memaklumi, tetapi tidak sedikit pula yang mencibir. Misalnya, ketika seseorang mengatakan, "I maybe can't draw," lalu muncul komentar seperti, "Jangan sok pakai bahasa Inggris kalau tata bahasamu masih berantakan!"
Pertanyaannya, apakah melakukan blunder saat belajar bahasa Inggris merupakan sesuatu yang memalukan? Apakah mereka yang sedang belajar pantas "dihukum" layaknya keputusan VAR dalam pertandingan penting? Tentu tidak.
Kesalahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Sama seperti pemain sepak bola yang tidak selalu tampil sempurna di setiap pertandingan, seseorang yang sedang mempelajari bahasa Inggris pun pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting bukanlah menghindari kesalahan sepenuhnya, melainkan berani belajar dan terus memperbaikinya.
Namun, bukan berarti kita boleh terus-menerus memaklumi grammar mistakes. Sebaliknya, kita perlu terus meningkatkan kemampuan melalui latihan yang konsisten. Bukankah Lionel Messi, Jude Bellingham, hingga Erling Haaland tetap berlatih setiap hari meski telah menjadi pemain kelas dunia? Kemampuan mereka lahir dari proses belajar yang panjang, bukan dari pertandingan tanpa kesalahan.
Lalu, bagaimana cara mengurangi blunder saat menggunakan bahasa Inggris?
- Pelajari Kosakata Bersama Pasangannya
Mengetahui pasangan suatu kosakata (collocation) sangat penting agar kita dapat menggunakannya secara alami. Misalnya, jangan hanya menghafal kata chance, tetapi pelajari juga pasangan katanya, seperti take a chance, by chance, atau last chance. Dengan begitu, kita akan lebih percaya diri saat berbicara maupun menulis dalam bahasa Inggris.
- Gunakan kalimat yang Siap Dipakai
Daripada menerjemahkan kalimat dari bahasa Indonesia setiap kali ingin berbicara, cobalah menghafal ungkapan yang memang sering digunakan penutur asli. Misalnya, ketika membutuhkan bantuan, kita bisa langsung mengatakan, "Could you please..." atau "Would you mind helping me?" Cara ini membuat komunikasi terasa lebih alami sekaligus mengurangi kemungkinan melakukan kesalahan tata bahasa.
- Jelaskan Saat Lupa Kosakata
Berkomunikasi dalam bahasa Inggris ibarat Lionel Messi sedang menguasai bola. Ketika kita tiba-tiba berhenti karena lupa satu kosakata, ritme komunikasi pun bisa ikut terhenti. Oleh karena itu, jika lupa sebuah kata, jangan langsung menyerah. Cobalah mendeskripsikan benda atau maksud yang ingin disampaikan. Misalnya, saat lupa kata flask, kita bisa mengatakan "the thing to store drinking water." Strategi sederhana ini akan membantu percakapan tetap mengalir.
- Perbanyak Berinteraksi dengan Penutur Bahasa Inggris
Sebuah tim sepak bola akan berkembang jika terus menguji kemampuannya melawan lawan yang kuat. Prinsip yang sama berlaku saat belajar bahasa Inggris. Berinteraksilah dengan penutur yang lebih fasih, terutama penutur asli (native speaker). Selain memperoleh masukan secara langsung, kita juga dapat mempelajari kebiasaan berkomunikasi dan budaya yang melatarbelakangi penggunaan bahasa tersebut.
Proses belajar bahasa Inggris tentu akan lebih efektif jika didukung oleh lingkungan yang tepat. Di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), mahasiswa didorong untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris melalui atmosfer pembelajaran yang berorientasi internasional, tanpa rasa takut melakukan kesalahan.
Mahasiswa juga memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan mahasiswa internasional dari berbagai negara, mengikuti kelas internasional, hingga mengembangkan kompetensi sebagai calon pendidik bahasa Inggris melalui Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris UMKT. Lingkungan belajar yang inklusif tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berlatih, berkembang, dan membangun kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris.
Grammar mistakes bukanlah tanda bahwa seseorang gagal belajar, melainkan bukti bahwa ia sedang berproses. Sama seperti para pemain sepak bola yang bangkit setelah melakukan blunder, kita pun dapat terus berkembang selama tidak berhenti belajar.
Jadi, sudah siap mengurangi grammar mistakes dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris bersama UMKT?
Penulis: M. Rafly Raihandy
Editor: Raisha Azzahro