Belajar Sepanjang Hayat: Mengapa Pendidikan Seharusnya Tidak Berhenti di Bangku Kuliah
Penulis: Raisha Azzahro
umkt.ac.id, Samarinda - Apakah pendidikan benar-benar berhenti setelah seseoang lulus dari bangku kuliah? Pertanyaan reflektif ini kerap muncul di tengah dinamika masyarakat modern, terutama ketika media sosial ramai menghadirkan narasi populer yang menyederhanakan makna pendidikan hanya pada keuntungan materi atau status sosial. Tidak sedikit konten viral yang menyebut bahwa kuliah tidak lagi relevan, bahkan dianggap sebagai ‘scam’.
Adanya konten viral tersebut merefleksikan menguatnya budaya pragmatis di kalangan generasi muda, di mana pencapaian hidup sering diukur dari hasil instan dan pengakuan publik. Tanggapan netizen yang beragam berupa dukungan hingga kritik, menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara pentingnya proses dan orientasi hasil semata. Konten ini menjadi populer karena disajikan secara sederhana, karakter media sosial yang serba cepat, dan mengutamakan sensasi
Bagi generasi muda, isu ini membentuk persepsi terhadap pendidikan formal, yang dianggap tidak lagi krusial dibandingkan pilihan hidup yang dinilai ‘lebih cepat berhasil’. Padahal, pandangan tersebut berpotensi mengaburkan peran pendidikan sebagai fondasi pembentuk nalar kritis, kedewasaan berpikir, serta kesiapan menghadapi konsekuensi jangka panjang dalam kehidupan.
Media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Namun, arus informasi sering kali membuat konten populer lebih dominan dibandingkan konten berbasis fakta dan data. Oleh karena itu, sikap kritis menjadi penting dalam menyikapi berbagai pandangan tentang pendidikan, termasuk anggapan bahwa proses belajar berakhir ketika seseorang telah menyandang gelar akademik.
Konsep belajar sepanjang hayat atau lifelong learning merupakan proses belajar yang dilakukan secara sukarela, terus-menerus, dan berkelanjutan sepanjang hidup untuk pengembangan pribadi, kebutuhan profesional, dan sosial. Pembelajaran ini tidak terbatas pada pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga mencakup pembelajaran nonformal melalui diskusi, pelatihan, membaca, dan seminar. Dorongan utamanya adalah motivasi internal untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar tetap relevan dan bisa beradaptasi dengan perubahan zaman.
Sejalan dengan hal tersebut, UNESCO melalui program Lifelong Learning mendorong pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat global.
Dalam realita saat ini, belajar seumur hidup bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dunia kerja berubah dengan cepat seiring perkembangan teknologi yang mengakibatkan munculnya profesi-profesi baru. Banyak keterampilan yang dibutuhkan belum sepenuhnya diperoleh di bangku kuliah. Sehingga, pelatihan, komunitas, dan pengalaman dunia kerja, menjadi bagian penting dari proses belajar.
Meskipun demikian, pendidikan formal tetap memegang peran fundamental. Perguruan tinggi memberikan fondasi intelektual melalui penguatan literasi, kemampuan analisis, dan berpikir kritis sekaligus menjadi ruang pembentukan jejaring dan karakter. Pendidikan formal dan nonformal bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi dalam menyiapkan individu untuk menghadapi tantangan zaman.
Belajar tidak seharusnya berhenti setelah lulus kuliah. Tantangan kehidupan yang terus berkembang, menuntut individu untuk memperbarui kemampuan dan pengetahuannya. Banyak alumni perguruan tinggi yang terus belajar melalui sertifikasi, pelatihan, dan program pengembangan diri lainnya. Keterampilan abad ke-21 seperti kreativitas, kemandirian dan kecakapan sosial-emosional menjadi penting.
Lebih dari sekadar gelar, pendidikan adalah tentang pola pikir. Ijazah merupakan fondasi awal dari perjalanan belajar yang lebih panjang. Setiap individu memiliki kesempatan untuk terus berkembang melalui berbagai jalur pembelajaran yang tersedia.
Bagi mahasiswa, pemanfaatan sumber belajar digital seperti MOOC, e-learning, dan webinar dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan belajar mandiri. Keterlibatan dalam komunitas pembelajaran dan kegiatan berbasis proyek juga membantu mengasah keterampilan praktis dan kolaboratif. Sementara itu, bagi alumni, micro learning, partisipasi dalam seminar, konferensi, atau forum keilmuan dapat menjadi sarana untuk terus memperbarui kompetensi.
Dalam hal ini, pendidikan tinggi termasuk Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), berperan strategis dalam mendorong pembelajaran berkelanjutan melalui program pengembangan mahasiswa dan alumni, penyelenggaraan lokakarya (workshop), pembinaan alumni, serta kolaborasi dengan dunia industri
Pada akhirnya, pendidikan tidak pernah berhenti pada satu fase kehidupan, Pendidikan formal adalah fondasi, sementara belajar sepanjang hayat merupakan perjalanan yang membentuk kualitas diri secara utuh. Di tengah narasi pragmatis yang kian marak ditemui di media sosial, penting untuk kembali memaknai pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi pengembangan manusia dan peradaban.
Penulis: Raisha Azzahro
Sumber Gambar: Freepik