Berawal dari Rasa Ingin Tahu: Cerita Nur Shabrina Qonitah sebagai Google Student Ambassador

 Diposting pada: Rabu, 14 Januari 2026, 05:40 WITA
 Penulis: Raisha Azzahro
Sejalan dengan TPB nomor:
SDGs 4 SDGs 5
Berawal dari Rasa Ingin Tahu: Cerita Nur Shabrina Qonitah sebagai Google Student Ambassador

umkt.ac.id, Samarinda- Berangkat dari rasa penasaran dan keberanian mencoba hal baru, Nur Shabrina Qonitah, yang akrab disapa Bina, menjalani peran sebagai mahasiswa Teknik Informatika UMKT angkatan 2023 dengan pengalaman yang beragam. Dalam sesi UMKTanya, Bina memperkenalkan dirinya sebagai international student, UMKT Ambassador Gen 2, Ketua Departemen Media Kreatif Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika, Google Student Ambassador Indonesia, sekaligus volunteer di EducationUSA Kalimantan.

“Pengalaman yang aku unggah di LinkedIn dan Instagramku, itu bukan grand plan aku. Bukan plan dari awal kuliah. Itu adalah hasil dari percobaan kecil yang ternyata membuka hal-hal besar lain,” ujarnya.

Salah satu peran yang cukup menyita perhatian adalah keterlibatannya sebagai Google Student Ambassador atau GSA. Bina menjelaskan bahwa GSA merupakan program leadership dari Google Indonesia yang bertugas merepresentasikan teknologi dari Google di kampus masing-masing. Meski baru sekitar empat bulan menjalaninya, peran tersebut memberikan perubahan signifikan dalam cara pandangnya sebagai mahasiswa IT. Benefit yang ia dapatkan pun sangat membantu pengembangan dirinya, seperti free bootcampgift exclusive, dan diundang ke kantor Google.

“Sejak aku jadi Google Student Ambassador, aku mikirnya lebih ke manfaatku untuk orang lain. Dari situ aku mulai berpikir, siapa yang akan terbantu oleh program yang aku buat,” tuturnya.

Pengalaman tersebut semakin diperkaya dengan posisi Bina sebagai volunteering di EducationUSA Kalimantan. Ia menceritakan salah satu momen yang membekas baginya saat menjaga booth EducationUSA di sebuah sekolah di Samarinda. Seorang siswa datang bertanya dengan penuh minat tentang studi ke Amerika Serikat. Tidak lama setelah siswa itu pergi, kedua orang tuanya datang menyusul dan ikut berdiskusi. 

“Dari situ aku sadar kalau semua orang butuh dukungan. Manusia itu nggak bisa berdiri sendiri,” kata Bina. Pengalaman itu menegaskan keyakinannya bahwa pendidikan bukan hanya soal informasi, tetapi juga tentang empati dan dukungan.

Dari kedua peran tersebut, Bina justru menemukan soft skill yang tidak ia dapatkan secara langsung di bangku kuliah. Menurutnya, inti pembelajaran terbesarnya adalah seni komunikasi adaptif. “Di Google, aku jadi penerjemah untuk hal-hal rumit kayak AI atau cloud ke orang yang awam. Di EducationUSA, aku belajar sisi empatinya dengan mendengarkan mimpi orang dan ngasih solusi secara personal,” jelasnya. 

Ia menyadari bahwa teknologi membutuhkan komunikasi yang baik, sementara pendidikan membutuhkan teknologi yang terus berkembang, dan keduanya saling melengkapi.

Di balik peran sebagai student ambassador, Bina juga kerap menemui kesalahpahaman. Banyak orang mengira ia mengetahui semua jawaban hanya karena menjadi bagian dari program Google. “Aku bahkan dipanggil ‘Mbah Google’. Padahal aku bukan orang yang tahu segalanya, tapi aku bisa bantu cari cara gimana mendapatkan jawabannya secara cepat,” ungkapnya sambil tertawa.

Menariknya, Bina menegaskan bahwa dirinya bukan tipe mahasiswa yang ambisius sejak awal. Ia lebih menggambarkan dirinya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan gemar mencoba. Dari rasa penasaran itulah berbagai kesempatan datang silih berganti. Meski harus berpindah dari suasana nonformal ke formal di berbagai peran, ia tidak merasa terbebani. “Aku malah merasa itu saling melengkapi,” katanya, merujuk pada pengalaman membangun solusi di GSA dan membangun koneksi antarmanusia di EducationUSA.

Motivasi terbesarnya pun sederhana. Ia mengaku merasa puas ketika apa yang ia lakukan benar-benar membantu orang lain. “Capek itu pasti ada, tapi rasanya nggak sia-sia kalau bikin event atau lokakarya (workshop) dan mereka merasa terbantu,” ujarnya. 

Namun, kesibukan itu tak jarang memunculkan hari-hari paling hectic, seperti saat rekrutmen GSA bertabrakan dengan magang di Telkom dan bimbingan laporan PKL dalam satu hari penuh.

Ketika burnout datang, Bina memilih untuk mendengarkan sinyal tubuhnya. Ia mengenali tanda-tandanya seperti mudah emosional, bad mood, dan merasa blank. Solusinya bukan memaksa diri menyelesaikan semua to-do list, melainkan memprioritaskan diri sendiri. “Entah itu jalan-jalan, makan enak, atau tidur seharian. Kadang tubuh butuh jeda,” katanya. Prinsip lain yang ia pegang adalah kejujuran dan keberanian dalam berkata ‘tidak’ serta disiplin menyelesaikan tugas. Ia menyiasati menyelesaikan semua tugas-tugas sebelum pulang agar bisa beristirahat saat di rumah.

Di akhir perbincangan, Bina menekankan pentingnya berhenti overthinking dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. “Cukup bandingkan diri kamu yang sekarang dengan diri kamu yang sebelumnya,” pesannya. Ia menambahkan, tidak perlu menunggu hebat untuk memulai, karena justru dengan memulai, seseorang akan bertumbuh menjadi hebat.

 

Penulis: Raisha Azzahro

Tags:
Artikel & Opini
Berita lainnya