Mahasiswa UMKT jadi Satu-Satunya Atlet Renang dari Kalimantan Timur yang Mewakili Indonesia di Kejuaraan ASEAN Para Games

 Diposting pada: Kamis, 05 Februari 2026, 12:49 WITA
 Penulis: Raisha Azzahro
Sejalan dengan TPB nomor:
SDGs 3 SDGs 4 SDGs 5 SDGs 10
Mahasiswa UMKT jadi Satu-Satunya Atlet Renang dari Kalimantan Timur yang Mewakili Indonesia di Kejuaraan ASEAN Para Games

Fathur Rizky Moreno merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) asal Kabupaten Paser yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi di tingkat internasional. Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital ini adalah atlet renang nasional penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) kelas S14 yang baru saja mengharumkan nama Indonesia dengan meraih dua medali perak pada ajang ASEAN Para Games cabang olahraga renang yang diselenggarakan di Thailand.

Ketertarikan Moreno pada dunia renang berawal dari sosok kakaknya yang lebih dulu menekuni olahraga tersebut. Melihat sang kakak meraih prestasi, menjadi pemantik semangat baginya untuk mengikuti jejak yang sama. Dari situ, renang tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga ruang bagi Moreno untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya. 

Perjalanan Moreno menuju ASEAN Para Games tidak terjadi secara instan. Awal karir Moreno sebagai atlet, ia berlatih dari kelas 1 SD di Kabupaten Paser dan sering mengikuti kejuaraan daerah. Untuk menambah kemampuan dan potensi yang dimilikinya, Moreno juga kerap berlatih di Balikpapan. Hingga akhirnya pelatih dari Balikpapan merekomendasikannya untuk bergabung dengan National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI).

Setelah melalui proses pembinaan dan seleksi, Moreno tampil pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2021 di Papua dan berhasil meraih dua medali emas serta satu perak. Prestasi tersebut menjadi titik balik penting yang mengantarkannya ke pemusatan latihan nasional (Pelatnas) dan memperkuat posisinya sebagai atlet andalan di cabang renang kelas S14 .

ASEAN Para Games sendiri merupakan ajang olahraga dua tahunan bagi atlet disabilitas se-Asia Tenggara yang digelar setelah SEA Games. Kompetisi ini tidak hanya menjadi arena adu prestasi, tetapi juga sarana mendorong inklusi sosial dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas melalui olahraga. Dalam kejuaraan di Thailand, Moreno mengikuti sejumlah nomor lomba, di antaranya 200 meter gaya bebas, 200 meter gaya ganti, 100 meter gaya kupu-kupu, serta nomor estafet. 

Persaingan yang dihadapi kali ini jauh lebih ketat karena munculnya atlet-atlet baru dengan kualitas yang semakin meningkat. Meski demikian, Moreno tetap mampu tampil kompetitif dan mempersembahkan dua medali perak bagi Indonesia, khususnya dari nomor estafet. Dukungan keluarga menjadi fondasi penting yang terus menguatkan langkahnya hingga ke level nasional dan internasional.

medali yang didapatkan Moreno di ASEAN Para Games 

Di balik pencapaian tersebut, tantangan terbesar yang dihadapi Moreno adalah persiapan fisik yang relatif singkat. Jika idealnya atlet menjalani Pelatnas selama delapan bulan hingga satu tahun sebelum kompetisi besar, jelang ASEAN Para Games Thailand ia hanya menjalani pelatihan intensif selama dua bulan. Hal ini tentu berdampak pada performa, namun tidak menyurutkan semangatnya. Selama masa latihan, Moreno menjalani jadwal yang ketat, dimulai sejak subuh dengan latihan renang pagi, dilanjutkan latihan kekuatan fisik di pusat kebugaran pada sore hari. Rutinitas tersebut dijalani dengan disiplin hampir setiap hari, kecuali hari Minggu.

Sebagai mahasiswa aktif, Moreno juga harus pandai membagi waktu antara akademik dan olahraga. Ia menyesuaikan jadwal latihan dengan perkuliahan, bahkan harus fokus penuh pada Pelatnas selama beberapa bulan. Dalam hal ini, UMKT memberikan dukungan penuh dengan memberikan izin dan pemahaman terhadap statusnya sebagai atlet nasional. Dukungan institusi pendidikan ini menjadi faktor penting yang memungkinkan Moreno tetap berkembang di dua dunia sekaligus, akademik dan olahraga.

Bagi Moreno, pencapaian di level internasional bukan semata soal medali. Kesempatan bertemu dengan atlet dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari negara lain, menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasan dan jejaring pertemanan. Ia mengaku bangga bisa pertama kali ke luar negeri dan melihat secara langsung perkembangan negara lain, sekaligus merasakan pengalaman bertanding membawa nama bangsa. Prestasinya juga mendapat apresiasi dari negara, termasuk undangan ke Istana Negara pada 2024 untuk menerima penghargaan langsung dari Presiden Republik Indonesia atas capaian di ajang internasional.

Sebagai satu-satunya atlet renang penyandang disabilitas dari Kalimantan Timur yang mewakili Indonesia di kelas S14, Moreno berharap kisahnya dapat menjadi motivasi bagi penyandang disabilitas lainnya. Ia berpesan agar tidak berkecil hati dengan keterbatasan yang dimiliki, melainkan menjadikannya sebagai potensi untuk berkembang. Menurutnya, setiap orang memiliki jalannya masing-masing, dan kesempatan akan selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak menyerah.

Melalui prestasi yang diraihnya, ia berharap Gubernur dan Bupati di daerah asalnya dapat memberikan apresiasi dan dukungan yang lebih nyata, sebagai bentuk perhatian terhadap perjuangan atlet daerah yang mengharumkan nama daerahnya.

Ke depan, Moreno masih menyimpan target besar. Ia berharap dapat kembali dipanggil mengikuti pemusatan latihan nasional untuk menghadapi Asian Para Games, termasuk peluang bertanding di Jepang, serta ajang internasional lainnya seperti ASEAN Para Games 2027 di Sarawak, Malaysia. Dengan semangat, dukungan keluarga, kampus, dan negara, Moreno terus melangkah, membuktikan bahwa prestasi dapat diraih oleh siapa pun tanpa terkecuali.

 

Baca juga di KapanLagi.

 

Penulis: Raisha Azzahro

Tags:
Artikel & Opini
Berita lainnya