Terobosan Peneliti UMKT: Suplemen Herbal Ibu Hamil dari Kelakai dan Jambu Biji
Penulis: Raisha Azzahro
umkt.ac.id, Samarinda - Angka kematian ibu hamil di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Salah satu penyebab utamanya adalah anemia dan kekurangan nutrisi penting seperti zat besi, asam folat, dan kalsium selama kehamilan. Di sisi lain, suplemen yang beredar di pasaran kerap memiliki rasa kurang nyaman, terutama yang mengandung zat besi, sehingga menurunkan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsinya secara rutin.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Indah Hairunisa selaku dosen Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) melakukan inovasi dengan mengembangkan suplemen herbal berbentuk granul effervescent (serbuk larut berbuih) berbahan dasar daun kelakai dan jambu biji merah. Penelitian ini turut dilaksanakan bersama Tri Budi Julianti yang juga merupakan dosen Farmasi UMKT serta lima mahasiswa.
Tanaman kelakai atau Stenochlaena palustris merupakan tanaman khas Kalimantan yang dikenal kaya zat besi dan kalsium. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan konsumsi kelakai dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil yang mengalami anemia.
Pemilihan tanaman kelakai pada penelitian ini adalah bagian dari penguatan potensi herbal lokal Kalimantan. Sementara itu, jambu biji merah atau Psidium guajava mengandung asam folat dan vitamin C yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah serta membantu penyerapan zat besi secara optimal. Kombinasi keduanya dinilai potensial sebagai alternatif suplemen alami untuk ibu hamil.
Penelitian ini tidak hanya memadukan dua bahan herbal tersebut, tetapi juga mengolahnya dalam bentuk yang lebih praktis dan menyenangkan untuk dikonsumsi.
Sediaan effervescent adalah serbuk yang akan menghasilkan sensasi berbuih ketika dilarutkan dalam air. Reaksi ini terjadi karena kombinasi komponen asam dan basa yang menghasilkan gas karbon dioksida.
Bentuk ini dipilih karena memiliki beberapa keunggulan seperti lebih praktis dan mudah dikonsumsi, rasa dapat dimodifikasi sehingga lebih nyaman di lidah, sensasi segar dan berbuih membantu menutupi rasa pahit atau logam dari zat besi, dan tidak perlu dihancurkan atau dikunyah, sehingga lebih mudah diserap tubuh.
Dengan pendekatan ini, diharapkan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi suplemen dapat meningkat.
Tim peneliti mengembangkan tiga formula dengan variasi perbandingan asam sitrat dan asam tartrat sebagai komponen pembentuk efek effervescent. Setiap formula kemudian diuji karakteristik fisiknya, mulai dari warna, aroma, dan rasa (uji organoleptik), waktu larut dalam air, kecepatan dan kemudahan aliran granul, pH larutan, kadar kelembapan, tinggi, dan lama busa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formula III, dengan perbandingan asam sitrat dan asam tartrat 9:3, menjadi formula paling optimal. Formula ini memiliki waktu larut tercepat (sekitar 2 menit), waktu hilang buih yang cepat, kadar kelembapan rendah, serta karakteristik fisik yang relatif stabil.
Secara sensorik, granul dan larutannya memiliki aroma khas jambu biji yang lebih dominan, rasa sedikit manis dan asam, serta sensasi “meletup” yang menyenangkan saat dilarutkan dalam air.
Meski demikian, masih terdapat beberapa parameter yang perlu disempurnakan, seperti waktu alir granul dan tinggi busa yang belum sepenuhnya memenuhi standar ideal.
Penelitian ini menjadi langkah awal dalam pengembangan suplemen herbal berbasis potensi lokal Kalimantan yang lebih ramah dikonsumsi ibu hamil. Namun demikian, peneliti menegaskan bahwa masih diperlukan tahapan lanjutan, antara lain uji kandungan zat besi (Fe) dan kalsium (Ca²⁺) secara kuantitatif, uji keamanan dan efektivitas pada hewan uji, dan uji stabilitas produk untuk memastikan mutu dalam penyimpanan jangka panjang.
"Target lain adalah kerjasama dengan mitra industri untuk produksi massal. Itu adalah target hilirisasi yang final setelah semua komponen keamanan dan keefektifan kami penuhi," ujar Indah Hairunisa.
Dengan pengembangan lebih lanjut, inovasi ini berpotensi menjadi alternatif suplemen herbal yang tidak hanya bernilai ilmiah, tetapi juga aplikatif dan mendukung peningkatan kesehatan ibu hamil di Indonesia.
Melalui riset ini, UMKT kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi berbasis sains yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus mengangkat kekayaan hayati lokal sebagai bagian dari inovasi kesehatan masa depan.
Penulis: Raisha Azzahro