Merajut Kebersamaan dan Toleransi: Cerita Mahasiswa Internasional UMKT di Bulan Suci Ramadan
Penulis: Raisha Azzahro
umkt.ac.id, Samarinda - Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas di Indonesia. Mulai dari tradisi ngabuburit, berburu takjil, hingga buka bersama (bukber) yang selalu menjadi agenda tahunan dalam mempererat silaturahmi, menjadi pengalaman budaya dan spiritual yang penuh cerita. Di lingkungan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), bulan Ramadan juga dirasakan oleh mahasiswa internasional, baik yang beragama islam maupun non-islam.
Vanessa Jepkemboi Bett, mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris UMKT asal Kenya, membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa non-muslim yang tinggal di lingkungan mayoritas muslim selama bulan Ramadan.
Menurut Vanessa, tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara bulan Ramadan di Indonesia dan di Kenya karena di sana juga banyak umat muslim. Sehingga, suasana bulan Ramadan tidak sepenuhnya baru. Namun, ada satu hal yang membuatnya terkejut, yakni kegiatan perkuliahan yang tetap berjalan normal saat bulan Ramadan.
“Makanan tetap tersedia, hanya saja tidak sebanyak bulan-bulan biasa,” ujarnya. Vanessa mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mencari makanan dan minuman selama bulan Ramadan di Samarinda. Sebagai non-muslim, ia merasakan sedikit kecanggungan ketika membawa minuman ke kelas. Untuk makan, Vanessa biasanya memilih melakukannya di asrama kampus.
Menariknya, ia juga mengaku belum pernah mendengar istilah 'takjil' sebelumnya. Hal ini menunjukkan bagaimana bulan Ramadan di Indonesia tidak hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kekayaan kosakata dan tradisi lokal yang baru bagi mahasiswa internasional.
Berbeda dengan Vanessa, Essra Mohammed Osman Abdalla, mahasiswa muslim S1 Teknik Informatika UMKT asal Sudan, turut membagikan pengalaman berpuasa di Samarinda. Menurutnya, adanya aktivitas di jalanan dan pasar, menjadikan bulan puasa terasa hidup dan semarak.
“Di Sudan, kami menghias jalanan dan lingkungan sekitar dengan dekorasi bernuansa Ramadan sebagai pertanda kegembiraan dan semangat menghadapi bulan puasa,” tuturnya saat membandingkan suasana bulan Ramadan di Samarinda dengan di Sudan. Meski bentuk perayaannya berbeda, Essra melihat adanya kesamaan yang kuat dalam semangat untuk beribadah dan solidaritas di kedua negara.
Essra pun tidak merasa asing dengan suara bedug atau panggilan sahur di Samarinda. Di negaranya tradisi serupa juga ada, sehingga ia merasa nyaman dan seperti berada di rumah sendiri. Namun, ada satu tradisi khas Sudan yang belum ia temukan di Samarinda, yakni buka puasa bersama secara spontan di pinggir jalan.
Di Sudan, masyarakatnya, khususnya laki-laki, menggelar tikar di depan rumah sebelum magrib dan mengundang siapa saja, termasuk orang yang lewat, untuk berbuka bersama. Tradisi ini menurutnya mencerminkan esensi bulan Ramadan yang penuh kepedulian, berbagi, dan mengasihi sesama. Jika diberi kesempatan mengimpor satu tradisi ke Samarinda, Essra ingin menghadirkan konsep buka bersama tersebut sebagai cara mempererat tali silaturahmi.
Salah satu hal yang paling mengejutkan baginya sebagai mahasiswa internasional adalah perbedaan awal puasa di Indonesia. Ia sempat kebingungan ketika ada yang memulai puasa di tanggal yang berbeda. Selain itu, ia juga terkesan dengan keberagaman pelaksanaan salat tarawih di berbagai masjid. Baginya, kedua hal ini menunjukkan kekayaan tradisi keagamaan dalam satu negara.
Tinggal di Kota Samarinda yang beriklim tropis memberikan tantangan tersendiri bagi Essra. Ia menjelaskan bahwa jika bulan Ramadan di Sudan jatuh pada musim panas, tantangannya hampir sama dengan di Samarinda karena rasa haus dan hawa panas yang mirip. Namun, di luar musim panas, berpuasa di Sudan relatif lebih mudah karena tingkat kelembapan yang lebih rendah dibandingkan Samarinda.
Essra melihat adanya rasa keterhubungan yang tumbuh di lingkungan UMKT. Ia juga memandang budaya bukber dan ngabuburit sebagai tradisi yang hangat dan positif, serupa dengan budaya di negaranya.
Pengalaman Vanessa dan Essra menunjukkan bahwa bulan Ramadan di UMKT bukan sekadar momentum ibadah bagi umat muslim, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran lintas budaya. Bagi Vanessa, Ramadan menghadirkan kesempatan untuk memahami tradisi dan kebiasaan baru sekaligus belajar tentang toleransi serta empati. Sementara bagi Essra, Ramadan di UMKT dan Samarinda menjadi pengalaman yang memperkaya perspektif tentang bagaimana satu ibadah yang sama dapat dijalankan dengan warna yang berbeda.
Di tengah keberagaman latar belakang mahasiswa UMKT, bulan Ramadan menjadi jembatan yang merajut kebersamaan, menguatkan nilai solidaritas, kepedulian, dan inklusivitas di lingkungan kampus.
Penulis: Raisha Azzahro